Kamis, 10 September 2009

Teruslah Bergerak, saudara ku


Ketika terjadi penyudutan dan mempersempit ruang gerak suatu kepercayaan atau agama tentunya akan menjadi pertanyaan kepada kita semua dimanakah letak demokrasi bangsa kita ini? Bukankah katanya setiap umat beragama itu berhak menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing, dan bukankah dakwah adalah salah satu amalan ibadah seorang muslim? Pada dasarnya kemunculan demokrasi menandakan kemunculan kebebasan kita untuk berekspresi dan menjaga ketertiban. Namun yang salah adalah ketika ada pihak yang menyalahgunakan arti kebebasan untuk melakukan pengrusakan dan ketidakmampuan mencegahnya dengan cara-cara yang tidak merusak ketertiban itu sendiri.

Realita inilah yang sedang terjadi pada negeri kita saat ini. Beberapa pihak yang ingin memberantas terorisme tampaknya kurang tepat dalam mengambil kebijakan pencegahan sehingga dikhawatirkan pendekatan keamanan yang menggunakan perangkat-perangkat intelijen yang bertujuan mulia untuk meningkatkan control justru malah menimbulkan terror bagi masyarakat.

Dampak dari pengawasan terhadap dakwah tentunya sudah sangat bisa dirasakan terutama oleh orang-orang yang telah berada dalam lingkaran dakwah ini. Banyak agenda besar untuk membangun peradaban yang harus tertunda karena semakin banyaknya orang yang enggan bertanggung jawab, padahal setiap manusia itu kelak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT dan tentunya Allaf SWT telah berjanji kepada kita semua bersedia dengan ikhlas berjuang di jalan Nya :

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad : 7)

Maka sudah sepatutnya kita di masa yang sedang carut marut ini untuk kembali merapatkan barisan, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berjuang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. Dan jauhilah perjuangan kita dari segala bentuk perselisihan atau pun kecemburuan karena ketika hal itu yang muncul maka akan menjadi pertanyaan bagi kita semua bahwa sebenarnya selama ini apa tujuan kita melakukan dakwah ini?

Bukankah seharusnya tujuan kita dalam dakwah ini bukanlah untuk mengharapkan sesuatu pun dari manusia; tidak pula mengharapkan benda atau imbalan lainnya; tidak juga popularitas, apalagi sekadar ucapan terima kasih. Seharusnya hal utama yang kita harapkan hanyalah ridho dan pahala dari Allah SWT; Dzat yang telah menciptakan kita. Sehingga beranilah karena benar dan takutlah karena salah, selama apa yang kita lakukan adalah sebuah nilai kebaikan yang tidak mendzalimi orang lain maka lakukanlah tanpa ragu. Jadi pantaskah kita diam hanya karena diawasi oleh beberapa pihak yang pada hakikatnya sama seperti kita padahal selama ini Sang pencipta kita juga selalu mengawasi seluruh aktifitas kita?.



Rabu, 09 September 2009

Kecemasanku terhadap sang Bandar Dunia Madani

Dalam Bulan Suci Ramadhan ini, beberapa pihak menyerukan untuk mengawasi dakwah untuk menimilasir munculnya tindakan – tindakan provokatif yang dapat memunculkan terorisme. Sebuah tindakan yang mungkin bertujuan untuk meminimalisir tindak kriminalitas di negeri kita ini, tapi disisi lain, entah sadar atau tidak tindakan ini justru membuat dramatisasi sistematik yang menyudutkan agama islam.

Hal tersebut tentunya terjadi juga di kota batam tempat kita menetap ini. Tindakan beberapa pihak ini tentunya menjadi sangat menakutkan dan unik ketika dilaksanakan di kota batam terutama di bulan ramadhan, mengapa saya katakan menakutkan dan unik? Seperti yang kita ketahui bahwa jargon kota batam adalah batam Bandar dunia Madani, tentunya dalam mewujudkan jargon tersebut diperlukan peranan masyarakat yang memberitahu dan mengingatkan mana yang benar dan mana yang salah, guna memperkecil dan menghilangkan segala bentuk kemaksiatan yang merupakan salah satu faktor yang menghambat terwujudnya kata madani. Dan peranan masyarakat itu tidak lain adalah salah satu bentuk dakwah.


Di sudut kota batam yang lain, salah satu hal yang sebenarnya cukup memprihatinkan bagi batam adalah keadaan malam kota batam yang tampaknya sulit sekali melakukan totalitas transformasi selama bulan suci ramadhan yang notabenenya satu kali setahun. Mereka hanya berani melakukan transformasi kurang dari satu minggu yang juga tak luput dari pelanggaran. Sedikit intermezzo, sudah bukan jadi rahasia lagi bagi kita semua bagaimana keadaan malam di sebagian kota batam adalah sebuah gambaran jaman jahiliah di era modern dimana kemaksiatan begitu merajalela yang ruang lingkupnya sama seperti kota besar lainnya yaitu pergaulan bebas hingga penyalahgunaan narkoba.


Jadi bukankah ini hal yang unik, sebuah kegiatan yang jelas mendatangkan kebaikan harus diawasi sedemikian rupa sedangkan sebuah kegiatan yang jelas kemaksiatannya justru dibiarkan begitu saja tumbuh subur dengan pengawasan yang belum optimal.


Dan disinilah letak hal menakutkan yang saya ungkapkan tadi, sebuah kekhawatiran saya terhadap kota ini mendapatkan kemurkaan Allah SWT karena kota ini telah diselimuti oleh kemaksiatan yang dilegalkan oleh para penguasa. Bukankah kehancuran umat – umat terdahulu layaknya kaum nabi nuh, kaum nabi luth, kaum ‘Ad & Ubar, kaum Tsamud, Fir’aun, Kaum Saba adalah karena tingkat kemaksiatan yang sudah mencapai batasnya. Seharusnya tidak kita lupakan bahwa Allah akan menghukum siapapun orang ataupun bangsa bila Ia berkehendak. Atau Ia akan membiarkan brangsiapa yang Ia ingini untuk tetap hidup biasa di dunia ini meskipun mereka mengingkari ajaranNya namun menghukumnya di alam (akhirat) nanti. Al Qur'an menyatakan :


“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada ditimpa dengan suara yang keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS Al Ankabut : 40)


Di sisi lain, tak dapat di pungkiri bahwa batam adalah kota dengan peradaban yang cukup tinggi, lihatlah semakin tinggi dan megahnya bangunan-bangunan di sekitar kita. Dalam Al Qur'an ada sebuah hal yang secara khusus menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa sebagian besar dari masyarakat yang dihancurkan tersebut memiliki tingkat peradaban yang tinggi.
“Dan berapa banyakkah umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?”.(QS Qaf 36).



Back to Orde Baru...?


Semakin hari tampaknya perjuangan ini semakin berat, jalan yang harus dilalui semakin penuh dengan onak dan duri, tapi memang itulah yang namanya dakwah, semua orang yang telah akrab dengannya (baca: dakwah) pasti sudah sangat sadar akan hal ini. Sehingga sebagai seorang pejuang tentunya mereka adalah orang-orang yang udah mempunyai tekad untuk menghadapi segala aral yang menghadang dan kezhaliman yang mewarnai perjuangannya.

Tak terasa sudah 1 bulan lebih sebuah berita tentang kembalinya ancaman BOM di negeri kita tercinta ini tersebar, dimana Bom kembar telah kembali meledak di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot. Sebuah berita yang mungkinkah menjadi titik awal kembalinya kita pada era 90-an, atau saya lebih suka menyebutnya Era Orde Baru.
Islamophobia tampaknya terulang lagi, sebuah phobia terhadap Islam tampaknya mulai melanda beberapa pihak. Sedikit demi sedikit mulai ada pengekangan terhadap Islam terutama dalam dakwah, padahal dakwah adalah salah satu kunci perjuangan islam yang merupakan rahmat ilahi bagi seluruh alam. Dalam surat Al imran ayat 104 telah dijelaskan tentang dakwah adalah kewajiban kita sebagai umat islam.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran : 104)

Dalam firman Allah tersebut dinyatakan dengan jelas bahwa kewajiban umat islam bukanlah hanya urusan shalat, zakat, puasa di bulan ramadhan dan naik haji bila mampu. Dakwah merupakan sarana untuk menyebarkan segala kebaikan dan menghapus segala kezhaliman. Itulah sekilas fakta tentang dakwah yang harus kita pahami, lalu mengapa muncul beberapa pihak yang mulai mengekangnya? Mengapa mereka mengaitkan hubungan terorisme dengan agama Islam yang suci ini? Apakah mereka sudah lupa dengan perjuangan para pejuang yang selalu memekikkan takbir ketika melawan para pasukan-pasukan dari negeri kincir angin dan armada- amada dari negeri matahari terbit?

Apakah yang mereka maksud dengan terorisme adalah jihad para pejuang islam? Picik sekali jika begitu kenyataannya. Jihad bukanlah kalimat yang berasal dari mulut da’i – da’i kami, Jihad adalah kalimat yang difirmankan oleh Allah SWT. Jika yang ada beberapa pihak yang menganggap Jihad adalah terorisme sehingga akan melarang umat islam untuk tidak berkata Jihad maka tolong pintalah kepada Allah SWT sang pencipta untuk melarang kami sebagai hambanya untuk menggunakan kalimat tersebut dan jangan lupa pula untuk meminta agar Allah SWT menghapuskan seluruh kata Jihad yang terdapat pada kitab suci Al Quran yang merupakan pedoman hidup kami.



Senin, 24 Agustus 2009

Berkenalan dengan Dakwah


Di suatu hari yang begitu gelap, aku tak tahu mengapa ini semua terjadi, apakah ini tanda bahwa kedzaliman telah merajalela di muka bumi dan pertanda bahwa sudah tidak ada lagi setitik pun nilai-nilai kebaikan di sekitar ku…? Aku terus melangkah, namun sejauh mata memandang di sekelilingku hanya ada kegelapan yang pekat. Ingin menangis rasanya ketika berada di sebuah kegelapan pekat namun tidak ada yang bisa kuperbuat. Aku pun terus berjalan lagi dengan semangat yang tersisa. Hingga akhirnya, di tengah keputus asaanku itu aku menemukan setitik cahaya yang rasanya sudah tak asing lagi bagiku. Cahaya yang menerangi sekelilingku dan menghangatkan diriku. Mataku terpaku melihatnya, tubuhku membatu hingga akhirnya sebuah kata darinya memecahkan kekagumanku dan kami mulai berbincang-bincang….

Sang Cahaya :
Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, Keluarga, dan para sahabatnya dan tak lupa doa kita panjatkan untuk para mujahid kita yang sedang berjuang untuk menegakkan agama islam.

Kami ucapkan salam islam; salam dari sisi Allah SWT yang penuh berkah dan Kebaikan,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Aku :

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Siapa Anda….?


Sang Cahaya :
Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah Manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiaannya di tengah manusia. Akulah Patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan islam yang hanif.

Akulah manusia bebas yang telah mengetahui rahasia wujudnya “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Inilah aku. Dan anda, anda sendiri siapa…?


Aku :
(aku hanya terdiam dan tak mampu menjawab pertanyaannya, aku sudah tak mengenal lagi siapa diriku, aku hanyalah seorang manusia hina yang telah diselimuti oleh dosa-dosa. Tanpa menjawab pertanyaannya aku kembali bertanya)

Mengapa anda ada di sini...?


Sang Cahaya :
Keberadaan kita di dunia ini hanyalah sementara, dunia adalah tempat kita mencari bekal untuk di hari akhir nanti dimana ketika itu seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun. Keberadaan ku disini tak lain hanyalah untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali imran :104)

Inilah alasan mengapa aku di sini. Dan Anda, anda sendiri mengapa ada di sini...?


Aku :
(aku pun kembali terdiam tak dapat menjawab, karena yang selama ini ku tahu bahwa hidup di dunia ini hanya sekali dan harus dinikmati senikmat-nikmatnya. Lalu aku pun kembali bertanya)

Apa tujuan anda melakukan semua itu...?


Sang cahaya :
Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia; tidak mengharapkan benda atau imbalan lainnya; tidak juga popularitas, apalagi sekadar ucapan terima kasih. Hal yang kami harapkan hanyalah pahala dari Allah SWT; Dzat yang telah menciptakan kami.

Inilah tujuanku. Dan anda, anda sendiri apa tujuan hidup anda...?


Aku :
(lagi-lagi aku tak bisa menjawab pertanyaannya karena selama ini tujuan hidupku adalah memenuhi segala hawa nafsuku yang tak pernah berakhir. Di tengah aku menyadari betapa tak berartinya diriku selama ini, menyadari bahwa selama ini aku telah mengisi waktuku dengan perbuatan sia-sia, aku merasakan sekelilingku mulai gelap kembali, kehangatan itu mulai hilang, dan cahaya itu mulai sirna. Di saat itu kuberanikan diri untuk kembali bertanya)

Dimana kita bisa bertemu lagi...?


Sang Cahaya :
Sebenarnya aku ada jauh di dalam hatimu, bersatu bersama jiwamu, mengalir bersama darahmu. Bersemangatlah untuk menjadi seorang pembangun peradaban, menjadi seorang petualang pencari kebenaran, menjadi segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, menjagi orang-orang yang hanya mencari ridho Allah, tuhan semesta alam.
Jangan pernah menyerah karena yakinlah kita kan bertemu lagi di sebuah jalan yang penuh onak dan duri.




Manajemen Perjuangan


Siapa bilang yang namanya manajemen itu hanya untuk anak akutansi dengan manajemen keuangannya, atau anak elektro dengan manajemen industrinya bahkan pula anak informatika dengan manajemen jaringannya. Perlu diketahui bahwa yang namanya manajemen itu diperlukan dalam setiap aktivitas kita, ada yang namanya manajemen waktu, manajemen organisasi, hingga manajemen hidup. Tentunya pada dasarnya seluruh manajemen tersebut dapat kita kerucutkan menjadi sebuah manajemen yang mencangkup semuanya yaitu manajemen perjuangan.

Perjuangan berarti usaha atau upaya untuk mencapai sebuah tujuan. Tentunya segala hal yang kita lakukan pasti memiliki tujuan , mungkin dari mencari ucapan terima kasih hingga mencari pahala dari Allah SWT. Tingkat perjuangan tertinggi adalah perjuangan yang mencari ridho Allah SWT. Perjuangan tuk meraih ridho Allah SWT bukanlah hal yang mudah, penuh cobaan di dalamnya, sebuah perjuangan yang penuh dengan onak dan duri bahkan tindak menutup kemungkinan kita akan diasingkan ketika berjuang demi mencari riho Allah SWT. Tapi jangan pernah merasa sedih ataupun ragu tuk berjuang di jalan ini hanya karena kita dianggap orang asing, ketahuilah :

“Islam datang dalam keadaan asing,Dan akan kembali asing, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)

Saatnya kita bangkit dan saling berpegangan tangan dalam sebuah barisan yang kokoh. Terus semangat dalam mengarungi perjalanan panjang perjuangan ini. Sebuah perjuangan yang memerlukan generasi muda sebagai generasi penerus bangsa yang berkomitmen untuk menjadi seorang pembangun peradaban. Sebuah perjuangan yang kita sebut “dakwah”.

Di luar sana masih banyak yang belum mengenal perjuangan ini, ada yang ingin mencoba berkenalan tapi ada pula yang memalingkan wajahnya jauh-jauh dari pejuangan ini. Ini adalah hal biasa dalam perjuangan, jangan pernah putus asa atau pun menyerah, inilah cobaan bagi kita dalam menjalankan perjuangan ini. Bagaimana pun sikap mereka terhadap perjuangan ini, mereka tetaplah saudara kita sesama muslim, tetaplah istiqomah dalam mengajak mereka bergabung bersama kita menjadi pembangun peradaban. Ketahuilah bahwa hanya ada 2 alasan mengapa seseorang tidak mau bergabung dalam satu barisan bersama kita untuk membangun peradaban, yaitu;
1. Mereka adalah orang-orang yang membenci islam
2. Mereka adalah orang-orang yang terlanjur sangat mencintai dunia.

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga dalam perjuangan ini pun diperlukan manajemen untuk menghadapinya. Manajemen inilah yang harus dipahami oleh seluruh pembangun peradaban dalam menyampaikan perjuangannya. Ketahuilah, ketika kita berjuang sebelum memahami manajemen perjuangan ini maka tak menutup kemungkinan bahwa orang-orang disekitar kita justru menjadi takut untuk bergabung bersama kita untuk membangun peradaban. lihatlah apa yang dilakukan saudara kita di sebuah pelosok negeri bernama palestina saat ini (HAMAS), perjuangan mereka kini bukan hanya perjuangan dengan senjata saja, mereka mulai melebarkan sayap, mengembangkan fase perjuangannya melalui produk seni dan budaya seperti nasyid perjuangan,buku, prosa, drama dan yang terbaru adalah film sinema Emad Akel. Mengapa mereka melebarkan sayap mengembangkan fase perjuangannya? Tentu jawabannya adalah satu karena mereka sadar bahwa tak semua orang dalam memahami makna perjuangan mereka yang menggunakn senjata dalam melawan penjajah. Pahamilah hal ini wahai pembangun peradaban!




Benarkah Semuanya RELATIF..?

Ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang buruk dan ada yang bagus, keduanya adalah 2 hal yang memiliki 2 perlawanan pula, sebenarnya tidak hanya dua hal tersebut tapi juga hampir segala hal di antara kita pasti memiliki perlawanan. Sebuah perlawanan yang jika difikirkan oleh logika setiap masing-masing orang pasti akan beragam dan menjadi relatif.

Percaya atau tidak, seseorang yang baik di fikiran kita belum tentu baik juga di fikiran orang lain. Bahkan seorang pahlawan bagi kita yang telah berjuang dengan segenap daya upayanya untuk memerdekakan Indonesia dulu tidak lain adalah seorang musuh atau penjahat perang yang tak berprikemanusiaan di mata pihak lain. Benarkah hal ini membuktikan bahwa setiap hal yang terjadi itu sebenarnya adalah relatif, tergantung dari sudut mana kita memandangnya…?

Perlu diperhatikan bahwa jika benar segala sesuatu di sekitar kita adalah relatif, maka tidak akan ada lagi orang yang takut berbuat dosa, semua orang akan menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu mereka karena semua berfikir dengan logika. Bisa dibayangkan bila semua orang bergerak berdasarkan nafsu dan logikanya masing-masing, tentunya negeri ini akan kacau balau bahkan mungkin akan terjadi sebuah peradaban yang benar-benar kacau.

Maka dari itulah, untuk membuat batas-batas logika manusia dalam bertindak menentukan mana yang benar ataupun yang salah, Allah SWT menurunkan Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam. Agama yang mengatur kita sebagai manusia untuk berhubungan dengan Allah SWT sang pencipta, berhubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan lingkungan. Allah SWT telah menetapkan mana yang salah dan mana yang benar. Allah SWT juga memberikan kita AL Quran sebagai pedoman hidup manusia sepanjang masa agar manusia tidak sembarang saja menggunakan logikanya dalam mengambil sebuah keputusan.

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.” (asy Syuura: 7)

Allah SWT juga mengutus Nabi Muhammad SAW untuk kita jadikan sebagai seorang teladan hidup. Kita sebagai manusia telah diberikan 2 pedoman hidup untuk berada di dunia ini melaksanakan segala hal yang baik dan meninggalkan segala hal yang buruk, mengumpulkan sebanyak-banyaknya amalan untuk menjadi bekal kita di hari akhir karena datannya hari akhir adalah sebuah kepastian.

“"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya." Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (ali imran : 9)
Jadi bersyukurlah kita sebagai umat muslim karena telah diberi 2 pedoman hidup yang insya allah kita pasti selamat dunia dan akhirat jika mengamalkannya.

:Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An nissa: 59)



Selasa, 11 Agustus 2009

Ksatria Islam yang Tangguh


"ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin" demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang KHALID BIN WALID sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.
Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka'bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka'bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.
Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka'bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, "O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu".

Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.
Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-'an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.

Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam.
Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.

Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.

Latihan Pertama
Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya.

Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi.
Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.
Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.

Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran.
Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa senialnya.

Menentang Islam
Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam.

Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.

Peristiwa Uhud
Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.

Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud.
Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.

Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam.
Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak.

Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.
Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.

Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.
Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.

Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.
Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.

Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemaua-Nya.